Meski keberadaan Badan Kerjasama Antar Umat Beragama (BKSAUA) Sulut, sering tidak diperhitungkan oleh sebagian kalangan, namun hal itu tidak menjadikan para personel yang ada di barisan pecinta kedamaian dan kerukunan itu lantas putus asa. Justru berbagai kritikan tajam yang diarahkan hingga upaya untuk membubarkan organisasi tersebut disikapi secara arif dan bijaksana.
Menurut Pdt Dr Siwu, peran BKSAUA Sulut dalam kiprahnya selang 30 tahun ini, banyak menunjukkan hasil konkrit. Hal itu dapat dilihat dari semangat torang samua basudara hingga mampu menjadi teladan dan contoh bagi propinsi lain.
“Ketika terjadi konflik yang seolah-olah ada muatan SARA, BKSAUA akan berupaya meredam sehingga hal itu tidak sampai muncul ke permukaan. Ini membuktikan bahwa masyarakat Sulut sangat mengedepankan hubungan yang harmonis antara satu dengan yang lainnya,” ungkapnya usai menggelar koordinasi berkaitan dengan rencana program tahun 2009 yang dilaksanakan di ruang BKSAUA pada Biro Kesejahteraan Rakyat Setdaprop Sulut dengan difasilitasi oleh Kabid Sosial dan Fasilitasi, Dra Ivone Kawatu.
Senada juga dikemukakan Drs Ridwan Sofyan (Budha), bahwa keharmonisan dan kebersamaan merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Sulut. Oleh karena itu meski saat ini hadir Forum Kerjasama Umat Beragama (FKUB) yang di gagas oleh Departemen Agama, namun hal itu bukan menjadi kendala. Malahan kehadiran FKUB dijadikan sebagai sarana untuk saling berkoordinasi. Mengingat keberadaan BKSAUA dan FKUB memiliki peran yang berbeda.
Sementara itu, menyambut pelaksanaan pemilu mendatang yang dikhawatirkan bakal meningkatkan resistensi masyarakat, Ir Suryono MT (Hindu) dan Drs JD Paat mengatakan bahwa BKSAUA akan meningkatkan koordinasi. “BKSAUA tidak berperan sebagai aparat. Dengan begitu ketika ada konflik, secepatnya akan direspons. Dalam situasi ini, upaya yang kita lakukan adalah saling mendamaikan. Sehingga masalah tidak merambat pada yang lainnya,” terang keduanya.
* Harian Komentar
