Perang yang dilancarkan Israel di Jalur Gaza telah berdampak pada peningkatan yang sangat tajam terhadap gelombang anti-Semitisme. Demikian dikemukakan oleh pemimpin Liga Anti-Penistaan AS.
"Ini adalah yang paling buruk, paling sering, dan paling global dalam sejarah ingatan kita. Dan upaya untuk mendapatkan orang-orang yang baik untuk bangkit sangatlah sulit," demikian dikatakan Abraham Foxman kepada para pemimpin komunitas Yahudi di Florida.
Menurut Foxman, serangan ofensif militer Israel terhadap kelompok Islam Hamas di Palestina, yang diawali di Jalur Gaza pada akhir Desember, telah dijawab dengan kebencian dan serangan-serangan terhadap orang-orang Yahudi "dari Austria hingga Zimbabwe."
Banyak pemerintah yang tidak dapat berbuat banyak untuk mencegah "suatu epidemik, suatu pandemik anti-Semitisme," kata Foxman.
Liga Anti-Penistaan mengatakan bahwa serangkaian serangan anti-Yahudi yang dipicu oleh konflik Gaza telah tersebar dimana-mana, dimulai dari penembakan terhadap dua warga Israel oleh seorang keturunan Palestina di Denmark.
Serangan-serangan lain terhadap sinagoge-sinagoge terjadi di Venezuela, Yunani, Chicago dan di tempat-tempat lain. Sementara di Turki, sebuah tim basket Israel diteriaki "pembunuh." Di Toulouse, Prancis, sebuah sinagoge menjadi sasaran bom mobil.
Foxman menambahkan bahwa gelombang protes di seluruh dunia sering menyamakan simbol Bintang Daud dengan swastika Nazi. Bahkan di Afrika Selatan, Italia, Turki dan Prancis, muncul seruan-seruan untuk memboikot bisnis-bisnis Yahudi.
"Kita harus mengupayakan agar masyarakat dunia di setiap negara dalam arena internasional untuk berkata 'tidak' terhadap keganasan dan kengerian ini," kata Foxman, yang organisasinya adalah organisasi yang memimpin upaya-upaya melawan kejahatan anti-Yahudi. [reuters/oyr79]
