Kata "zionisme" bagi orang Islam seperti sebuah simulacra yang menakutkan, padahal bagi masyarakat Yahudi (Israel), kata itu biasa dan netral-netral saja. Menyebut "zionisme" bagi orang-orang Israel sama entengnya kita menyebut "nasionalisme." Zionisme adalah padanan yang persis untuk kata "nasionalisme" bagi perjuangan bangsa Israel. Tanpa Zionisme, Israel modern tak akan pernah ada. Zionisme-lah atau Gerakan Nasionalisme Yahudi, negara Israel modern bisa berdiri.
Zionisme berasal dari kata "Zion," sebuah idealisasi tempat di Yerussalem (al-Quds). Kamus2 besar mengartikan Zion sebagai al-Quds atau Yerusalem. Dalam tingkat tertentu, kata Zionisme bisa dipersandingkan dengan "Negara Madinah" atau "Negara Islam" atau pada gerakan-gerakan baru semacam "al-Quds Squad" atau "al-Quds Brigades" yang didirikan kaum Muslim Palestina (biasa dikenal dengan nama "al-harakat al-jihad al-Islami"). Hamas adalah sebentuk "zionisme" Islam, karena memproyeksikan Yerusalem sebagai negara/kota ideal buat mereka.
Dalam perkembangannya, Zionisme diadopsi secara resmi oleh negara Israel sebagai salah satu sendi Eretz Yesrael (atau dalam bahasa Arab disebut "Ardh Israil"). Seperti kita mengakui "persatuan Indonesia" atau "kebangsaan" dalam Pancasila, orang2 Israel meyakini Zionisme dalam "pancasila" (kalau tidak salah trisila) mereka.
Saya suka bingung kalau ada orang mengecam Zionisme dengan berbagai stigma. Bagi orang2 Israel, Zionisme adalah modal penting untuk berdirinya negara itu, sama seperti kita meneriakkan nasionalisme ketika mengusir penjajah Belanda dulu. Bahwa dalam perjuangan kemerdekaan orang-orang seperti Tjokroaminoto, Syahrir, Tan Malaka, dicap sebagai "teroris" oleh pemerintahan kolonial, itu persis seperti orang-orang Arab menganggap Menachem Begin, Yitzak Shamir, Yitzak Rabin, sebagai "teroris." Tapi, bagi bangsa Israel, sama seperti kita menganggap tokoh-tokoh nasional kita, mereka adalah para pahlawan.
Karena Zionisme sebagai konsep sama persis dengan Nasionalisme, maka dalam perkembangan selanjutnya kita pun melihat ada aneka ragam manusia di dalamnya: ada yang sekuler, liberal, fundamentalis, radikal, dan konservatif. Tidak ada yang aneh jika seorang serdadu Israel memegang Taurat di kanannya dan senjata otomatis di tangan kirinya. Ini adalah sejenis "Zionisme Radikal" atau "Zionisme Konservatif" sama seperti para tentara Hezbullah yang sering mengacungkan al-Quran dan Senjata ke langit Lebanon.
Zionisme yang sekular tidak kalah banyaknya. Bahkan, kelompok inilah yang sesungguhnya menguasai Israel. Kadang, orang-orang Zionis sekular berpikiran lurus, kadang, karena tekanan politik, mereka menggunakan agama untuk mencapai target kekuasaan mereka. Tidak ada yang aneh. Ini sama saja dengan para Bupati atau Caleg sekular (dari Golkar atau PD misalnya) yang mengusung Perda-Perda Syariah. Politik selalu buruk jika diperalat agama (atau sebaliknya, sama saja).
Akhirul kalam, sambil mengecam kebrutalan tentara Israel di Gaza, marilah kita menjernihkan pikiran, mengendurkan urat syaraf, dan mencari solusi yang lebih ajek bagi semua.
Penulis: Luthfi Assyaukanie
* diambil dari Facebook
